Rabu, 14 Juli 2010

Aku Dan Hujan

Ajari aku menjadi hujan.
Dengan tatapan mataku yang menenangkanku.
Dalam dekapan tanganmu yang membuatku terlena.
Meluruhkan semua egoku.

Dalam larutan pudar ketenanganmu.
Dan menyandarkan isi kepalaku yang memanas ini di bahumu.
Tidak untuk sementara.
Tapi aku harapkan selamanya.
Sambil ku pejamkan mata.

aroma tanah basah mulai terendus,
gemericiknya juga mulai menari-nari di telingaku,
aku melirik sejenak ke jendela kamarku yang menghadap jalan raya,
ternyata Rinai Hujan, rinainya masih kecil,

Rinai memang lebih romantis daripada hujan,
karena rinai tak pernah marah dan meledak-ledak
ia tenang dan menenangkan
meskipun kadang hujan tiba-tiba merenggutnya dariku

ia akan hadir kembali,
dikala hujan mulai jenuh
dan petir mulai enggan untuk menyambar,
sayang, rinai kali ini takkan berbuah pelangi,
karena pekat malam masih membayang,
aku kembali melirik keluar,
menikmati rinainya yang indah,
tapi ada yang lebih memikatku dari sekedar rinai,
tepat arah jam 12 dari tempatku berdiri, a
ku melihat sepasang suami istri di usianya yang tidak lagi muda. 
mereka juga sedang menikmati rinai kecil gerimis yang jatuh perlahan dari taman langit.
Gerobak nasi goreng mereka  nampak menyusut dibalik gerimis.
mereka bercengkrama,
entah karena pembeli tak juga datang,
atau karena gerimis sebentar lagi terenggut oleh hujan.
tapi mereka tersenyum, menikmati semuanya.

ah, rinai memang lebih romantis daripada hujan.

*aku kembali menatap monitor di depanku,
karena rinai meninggalkanku,
dan hujan mulai tak bersahabat.
sebelumnya,
aku sempatkan sejenak melirik sepasang suami istri dibalik gerobak nasi goreng,
mereka tak lagi bercengkrama,
hanya diam,
memandangi hujan....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar