Selasa, 21 Desember 2010

Hidup itu aku,,,,,,,,

Another writing from the past........ just a fluttering thoughts of life

“Bagaimana kamu akan menjalani hidupmu esok hari,?”
Sebuah pertanyaan yang kayaknya harus segera kamu pikirkan jawabannya. Mau apa kamu? Itulah masalahnya….

Hidup itu apa sih sebenarnya? Yang gue tahu, hidup itu penuh dengan pilihan. Tapi apakah 'hidup dengan pilihannya' itu seperti "one way ticket”, sekali kita memilih kita tidak bisa (atau tidak boleh) kembali ke titik awal? Atau hidup itu sebenarnya “trial and error” , coba dan coba lagi sampai akhirnya ketemu yang benar, yang cocok, yang pas? Kalau benar hidup itu “trial and error”, sampai kapan kita harus mencoba sampai akhirnya bisa menemukan yang benar itu? Apa gak buang-buang waktu? Kalau salah terus gimana? Gak ketemu-ketemu juga yang benar, sampai mati.

Tapi mungkin sebenarnya hidup itu bukan “one way ticket” bukan juga “trial and error”. Mungkin bisa sekaligus kedua-duanya, atau bukan kedua-duanya, atau bisa juga keduanya bergantian dijalani. Mungkin juga. Atau sebenarnya tergantung orang yang menjalaninya, jadi bukan suatu definisi yang bersifat universal.

Ada orang yang menganggap bahwa hidup itu seperti one way ticket. Begitu dia memutuskan sesuatu, tidak ada istilah salah dengan pilihan atau keputusannya itu. Tidak ada rumusan menyesal dalam kamusnya. Baginya hidup itu pendek. Hidup itu terlalu singkat, sehingga tidak ada waktu untuk kembali. Yang dilakukan adalah menjalani hidupnya, sesuai dengan pilihan-pilihan yang telah diputuskannya, dengan sebaik-baiknya. Yang harus dia kerjakan adalah memberi makna bagi kehidupannya yang telah ia pilih itu. Toh, di dalam pilihan hidupnya itu, ia juga akan dihadapkan pada pilihan-pilihan lagi. Nah, kembali lagi ke pilihan-pilihan itu, bukankah sebenarnya melaju terus atau kembali juga merupakan suatu pilihan? Bingung kan lu, Noy? Benar-benar lingkaran setan.

Sekarang yang satunya lagi, yang trial and error. Gue misalkan hidup itu seperti sebuah proses kerja, atau apa itu namanya… ehm… metoda ilmiah kali, yach? Atau proses kerja tertutup? Terserah deh apa namanya, gue lupa. Tapi yang jelas pada bagannya selalu ada loop yang kembali, sebagai suatu umpan balik. Kalau gue misalkan hidup seperti itu, sebenarnya sih sama sekali bukan trial and error murni. Setidak-tidaknya untuk memulai mencoba kembali seseorang sudah punya bekal pengetahuan bahwa apa yang sudah dikerjakannya kurang tepat atau salah. Boleh juga, hidup kayak gini. Mungkin ini hampir seperti istilah mundur satu langkah untuk maju dua langkah… (kalau bisa seratus langkah.. he.. he..)

Hidup seperti cerita Boneka Garam itu sebenarnya bisa dikategorikan kemana yach? Ceritanya kan dia berjalan-jalan keliling dunia, sampai akhirnya dia ketemu laut yang sangat mempesonanya, lalu yang akhirnya memanggilnya untuk terjun ke dalamnya, sampai akhirnya dia larut dengan bahagia karena bisa menemukan jati dirinya. He… he… sebuah cerita dongeng yang sangat ingin gue percaya bisa terjadi pada diri sendiri. Cerita yang sangat mengobsesi gue. But, is it in ‘one way ticket’ or ‘trial and error’ category? Susah untuk dikategorikan. Tapi mungkin kalau gue rekayasa ceritanya, gue bumbu-bumbuin lagi sedikit di bagian perjalanan si Boneka Garam keliling dunia – sebelum bertemu laut – mungkin bisa dimasukkan ke kategori trial and error. Misalkan dia berjalan-jalan sampai di gunung, “Yup, this is not my place” kata si Boneka Garam. Terus dia turun gunung, jalan terus sampai ke gurun pasir, juga dengan kesimpulan “It isn’t either!” (si Boneka Garam, dari garam Inggris kali yach?…). Lalu dia jalan lagi sampai akhirnya ketemu laut. Kan jadi ceritanya bisa dibilang trial and error.

Tapi kalau saja -- misalkan – dia ketemu sungai atau ekstrimnya sebuah sumur. Terus dia nyemplung, plung!!, ke dalamnya. Dia sebenarnya pasti larut juga, tapi gak sampai ke penemuan hakikat ke-garam-annya itu. Gimana dong? Eh.. tapi bisa juga sih.. kan hukum alamnya siklus air, akhirnya lewat laut juga, sehingga si Boneka Garam yang nyemplung di air sumur, akhirnya bisa juga ketemu rekan-rekannya sesama partikel garam di laut. Berarti dengan nyemplung di air sumur itu, dia sudah berada di arah yang lumayan benar. Cuma jadinya cerita Boneka Garamnya jadi panjang dan ngawur.. he.. he.. Yap, cerita Boneka Garam versi gue ini, bisa digolongkan ke hidup jenis trial and error juga.

Tapi kayaknya gak akan menjawab masalah gue deh kalau gue gak mencoba mengaplikasikannya ke kehidupan gue sendiri. Sekarang gue coba, deh.

9 tahun yang lalu, gue dihadapkan dengan pilihan, mau sekolah apa gue, dan gue sudah pilih (walaupun dengan pertimbangan yang sekarang gue nilai sangat dangkal) Gue sudah pilih: Ekonomi. Lima tahun gue jalani dengan pikiran: “This is not the very right place for me, I can’t be optimal here”. Tapi toh, akhirnya gue bisa melewati masa-masa itu dengan hasil yang gak jelek-jelek amat, lumayan malah. Ternyata gue bisa survive juga… Apa standar optimal gue itu terlalu muluk? Atau bahkan gue gak tahu standar optimal gue itu seperti apa, sampai di mana? Mungkin juga begitu. Kalau gue ditanya seseorang, “Elu bilang, elu gak cocok di Ekonomi: terus menurut elu, lu cocoknya di mana? He..he.. gue pasti bilang, “Gak tahu!” “Terus elu maunya apa?” Gue pasti jawab, “Gak tahu juga!”. Ditanggung orang yang nanya pasti sebel. Gue juga sebel kok.

So, elu maunya apa? Sekarang elu sudah sampai lagi di suatu titik, elu harus memutuskan elu mau apa, mau ke mana, mau ngapain...

So with anything you’ve chose, make it worthy. Just do the best with the life that you’ve chose!

“Hidup mengalir seperti air” . Elu berpikir itu terlalu pasif, ? Terlalu ‘gak ngapa-ngapain’ dan tergantung aliran air? Ah, gak juga kok. Selama airnya masih mengalir, kan berarti bergerak. Dinamis juga, kan?

“Hidup itu gak pernah pasti: Gak ada yang pasti dalam hidup, kecuali ketidakpastian itu sendiri”. Pernyataan itu juga gak sepenuhnya pesimistik. Malahan bisa jadi alasan untuk optimis: Kalau benar gak ada yang pasti dalam hidup, berarti gak ada alasan untuk takut memilih. Toh, selalu masih ada kesempatan untuk balik. Bahkan kalau elu memilih one way ticket itu, juga gak berarti elu gak bisa memilh yang trial and error. Itu juga suatu pilihan kan?

Sebenarnya one way ticket, trial and error, mengalir seperti air, atau hidup seperti cerita Boneka Garam, kayaknya sama aja semua. Hidup itu pilihan, hidup itu berarti memilih, berarti mencari terus. Karena memilih dan mencari itulah, manusia bisa dibilang hidup. Soalnya manusia yang sudah mati, gak lagi bisa melakukannya.

Dan buat seseorang yang gak punya ambisi tertentu yang besar, yang gak pernah tahu maunya sebenarnya apa, tapi juga gak pernah merasa puas sekali dengan hidupnya, kayaknya gak akan pernah ketemu yang namanya laut seperti lautnya si Boneka Garam. Sepertiya justru seharusnya gue beranggapan, kalau gue sudah menemukan lautnya gue, berarti yang namanya perncarian sudah selesai, yang berarti selesai pula yang namanya kehidupan itu. ‘Laut’ itu yang harus dicari, tapi hakikat kehidupan itu sendiri ada pada pencariannya.

Yap… kesimpulan yang cukup melegakan? Mudah-mudahan… Tapi gak menutup kemungkinan untuk terjadi perubahan pandangan dan adanya kesimpulan baru -- selama gue masih hidup.

Ayah.....

Suatu ketika, ada seorang anak perempuan yang bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbongkok-bongkok.Anak perempuan itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah ayah kian berkerut-merut dengan badan ayah yang kian hari kian membongkok ?" .Si ayah menjawab : "Sebab ayah lelaki." Anak perempuan itu berkata sendirian : "saya tidak mengerti".

Dengan kerut-kening kerana jawapan ayahnya membuatnya termenung rasa kebingungan. Ayah hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anaknya itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian si ayah mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang lelaki."

Demikian bisik Si ayah, yang membuat anaknya itu bertambah kebingungan. Kerana perasaan ingin tahu, kemudian si anak itu mendapatkan ibunya lalu bertanya kepada ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian membongkok?Dan sepertinya ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasasakit ?" Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang lelaki yang benar-benar bertanggungjawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawapan si ibu.

Si anak itupun kemudian membesar dan menjadi dewasa, tetapi dia tetap juga masih tercari-cari jawapan, mengapa wajah ayahnya yang tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi membongkok? Hingga pada suatu malam, dia bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimah sebagai jawapan rasa kebingungannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan lelaki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap hujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindung."

"Ku ciptakan bahunya yang kuat dan berotot untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya.Ku berikan kemahuan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari titisan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya.Ku berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan dan kesejukan kerana tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya dicurahkan demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya."

"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta kesungguhan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya". "Ku berikan perasaan cekal dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam suasana dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesedaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dikotak-katikkan oleh anak-anaknya." "Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyedarkan, bahawa isteri yang baik adalah isteri yang setia terhadap suaminya, isteri yang baik adalah isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka mahupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sepadan dan saling melengkapi serta saling menyayangi.Ku berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahawa lelaki itu senantiasa berusaha sekuat daya fikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya dapat hidup didalam keluarga bahagia dan badannya yang terbongkok agar dapat membuktikan, bahawa sebagai lelaki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, kesungguhannya demi kelanjutan hidup keluarganya."

"Ku berikan kepada lelaki tanggungjawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyokong, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh lelaki, walaupun sebenarnya tanggungjawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat."

Jumat, 17 Desember 2010

Kanker OTak

Kanker otak merupakan pembunuh yang bekerja diam-diam. Kehadiran kanker otak kadang sangat sulit dideteksi. Gejala umum kanker otak adalah kepala pusing dan mual/muntah.

Kanker otak dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Penyebabnya bisa satu atau lebih, dan secara umum dapat dibagi menjadi dua kategori:

Faktor dari dalam

Merupakan faktor yang datang dari dalam diri sendiri. Yang utama adalah faktor keturunan / genetik. Jika ada sanak saudara yang punya riwayat menderita kanker otak, berarti peluang Anda terkena kanker otak lebih besar daripada mereka yang keluarganya tidak ada penderita kanker otak. Faktor kedua yang dapat memicu terjadinya kanker otak adalah riwayat benturan (jika kepala Anda pernah terbentur). Benturan ini dapat menyebabkan trauma pada jaringan otak, sehingga bisa jadi penyebab tumbuhnya jaringan abnormal dalam otak (yang kemudian dapat berkembang menjadi kanker otak).

Faktor dari luar

Merupakan faktor yang datang dari luar tubuh, pada umumnya berupa makanan dan radiasi. Obat-obatan tertentu yang diminum secara terus-menerus berpotensi menyebabkan kanker. Faktor-faktor lainnya:

* Pola hidup yang kurang sehat: misalnya merokok, makanan berlemak, kurang serat, dsb.
* Bahan karsiogenik: minyak goreng yang dipakai berulang-ulang, bahan kimia yang termakan
* Radiasi: paparan radiasi dalam gelombang tertentu dapat memicu berkembangnya sel kanker
Sebelum memahami lebih lanjut tentang gejala kanker otak, Anda perlu memahami struktur otak manusia terlebih dahulu. Otak merupakan organ tubuh penting yang mengatur segala aktivitas / gerakan tubuh manusia. Bayangkan saja Anda sedang naik motor, ada berapa aktivitas yang Anda lakukan? Melihat jalan, menyetir, lihat kiri-kanan, lihat kaca spion, menyeimbangkan, belum lagi sambil mikir nanti malam mau makan apa... Dalam satu detik, ada riburan hal yang terjadi dalam otak Anda (baik yang terjadi secara sadar maupun tidak sadar).

Otak bisa multitasking begini karena semua aktivitas tersebut diatur oleh bagian otak yang berbeda (tiap bagian memiliki fungsi yang berbeda). Secara umum, otak manusia dibagi menjadi tiga bagian, yaitu otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum) dan batang otak (brain stem). Tiap bagian ini terbagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil, di mana masing-masing bagian kecil tersebut terbagi lagi, dan seterusnya. Ruang antar bagian terisi oleh cairan otak (cerebrospinal fluid), sedangkan bagian luarnya terlindungi oleh tiga lapis selaput otak (meninges) dan tulang tengkorak.



Nah, tiap bagian otak tersebut bisa terkena tumor/kanker. Walaupun tumor jinak, tapi karena tumbuhnya di otak, bisa menjadi sangat berbahaya. Tumor tersebut dapat mengganggu fungsi dan merusak struktur susunan saraf pusat, karena terletak di dalam rongga yang terbatas (rongga tengkorak). Seiring dengan berkembangnya tumor tersebut, jaringan otak akan semakin tertekan. Padahal volume rongga tengkorak sangat terbatas dan tidak mungkin bertambah besar. Inilah yang menjadikan sakit kepala / pusing sebagai gejala awal kanker otak.

Ciri-ciri awal kanker otak sangat bervariasi, tergantung pada bagian otak mana yang terserang. Misalnya kepala pusing atau terasa mual. Berikut gejala kanker otak yang patut Anda waspadai:

* sakit kepala disertai mual sampai muntah yang menyemprot
* daya penglihatan berkurang
* penurunan kesadaran atau perubahan perilaku
* gangguan berbicara
* gangguan pendengaran
* gangguan berjalan / keseimbangan tubuh
* gangguan saraf
* anggota gerak melemah atau kejang
* pada bayi biasanya ubun-ubun besar menonjol

Ingat, daftar di atas hanya merupakan gejala. Walaupun Anda mengalami satu atau lebih gejala di atas, belum tentu Anda terkena kanker otak. Untuk memastikan, Anda harus diperiksa langsung oleh dokter ahli syaraf serta menjalani pemeriksaan lanjutan seperti CT scan, MRI, angiogram, myelogram, spinal tap dan biopsi.

another try



Sebagai perempuan, salah satu karunia terbesar yang kita miliki adalah hati-emosi, sifat dasar yang sensitif, dan feminitas kita.


Saya membaca penggalan atikel ini di kamar tadi malam. Tiba-tiba saya kembali mem-flash-back obrolan saya beberapa waktu yang lalu dengan seorang kawan di dunia maya. Malam itu dia bercerita bahwa ada temennya seorang perempuan yang tiba-tiba memutuskan perbincangan lewat cetting tanpa pamit, hanya karena kawan saya (seorang pria [sok] lugu) baru saja mengatakan bahwa dia sedang “memperhatikan” seseorang di gerejanya. Kawan saya protes saat itu dan bilang: ”kenapa perempuan itu aneh yah? Kenapa dia menjadi marah karena omonganku yang seperti itu?".

Saya pun cuma tersenyum simpul waktu itu, karena gambaran hal serupa pun pernah saya alami ketika tau bahwa salah satu temen yang cukup dekat dengan saya akan melangsungkan acara pertunangannya, mendadak. Tepat disaat perhatiannya kuanggap sebagai ekspresi “rasa sukanya”. Ternyata saya salah besar!!. Atau misalkan suatu keadaan seorang perempuan menerima ajakan kencan dari seorang laki-laki, dimana si perempuan akan cenderung terlibat lebih emosional bila si laki-laki bisa membuat dunia kita berputar di sekitarnya.

Kejadian ini sering kali dialami banyak perempuan di luar sana. Tak jarang malah mengalami putus asa, menjadi tertutup dan terus-menerus menyalahkan dirinya karena telah bermain-main dengan yang namanya “emosi”. Bagi perempuan, suatu hal yang wajar mencurahkan dirinya dalam suatu hubungannya, bahkan hubungan pertemanan biasa sekalipun. Sedangkan hal itu berbanding terbalik dengan laki-laki. Seorang laki-laki mungkin tidak tergerak untuk membuka hatinya kepada orang lain; sesungguhnya, ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya. Jadi bagi pria, menjalin sebuah pertemanan adalah memposisikan dirinya terlibat secara fisik, tetapi tidak terlibat secara emosional sama sekali.

Skenario yang sering muncul di pemikiran perempuan yang sedang menjalin pertemanan, adalah ketika mereka merasa posisi mereka membutuhkan adanya pengakuan. Bagi perempuan, pengakuan atas STATUS menjadi hal yang mutlak. Padahal jika suatu hubungan pertemanan lawan jenis, bagi laki-laki tetap saja judulnya “PERTEMANAN”, titik. Menilik skenario yang ada, maka tak jarang banyak kita dengar kisah curhat tentang “aku, sahabat yang mencintaimu”, kata si perempuan. Nah, kalo sudah melibatkan emosi, maka tak ayal persahabatan akan hancur, dan juga mempengaruhi "tingkat ke-PD-an” si perempuan. haalahh!!.

Nah bila sudah begini, perempuan akan mengunci emosi. Mereka secara tidak sadar mengatakan kepada diri sendiri bahwa satu-satunya cara agar tidak patah hati adalah dengan menyangkal bahwa mereka memiliki hati dan kembali pada gairah fisik, sama seperti laki-laki, yang memandang “fisik” adalah hal yang dominan.

Tapi bisa dipastikan untuk kaum perempuan, berlaku seperti itu hanya akan berhasil sebentar sampai kepedihan menerobos dinding pertahanan hatinya [lagi]. Sebuah teori mengatakan bahwa, Sebagai perempuan, kita dirancang untuk memberikan diri kita sepenuhnya-secara emosional dan fisik-kepada SATU laki-laki. Sehingga menjadi sebuah kebutuhan batin yang mendalam untuk dicintai dan disayangi seumur hidup oleh laki-laki yang kepadanya kita memberikan diri kita.

Basically, perempuan mencintai orang yang mencintainya… tapi laki-laki memilih kepada siapa cinta mereka akan berikan…



Dari apa yang coba artikel jelas itu, saya jadi berpikir untuk “belajar mengelola emosi”. Khusus buat kaum hawa yang sedang men-jomblo ato sedang menjalin pertemanan dengan lawan jenis, semoga pandai-pandai mengelola “hati”. Memang “hati” tak pernah bisa di prediksi-kan arahnya, tapi bukankah kita diberikan “ke-peka-an” yang menjadikan kita lebih hati-hati untuk memilih?.

Hati itu dipilih,bukan memilih…Ketika hati telah di pilih, saya akan merasa bahwa ada seseorang yang menganggap saya adalah pusat jagad rayanya. Saya hanya perlu merasakan kemana hati saya akan berlabuh…



Tak inginkan kau merasakan kepedihan yang muncul hanya karena memberi hatimu tanpa pikir panjang. Menjadi EMOSIONAL? Pikir-pikir lagi-lah…..!!!

*Sebaiknya saya cukupkan sampai disini saja penjelasan "ngawur" ini, tadi niatnya seh mau ngasih tanggapan ala saya tapi koq rasanya makin ndak karuan yo' *mbulet*.

Kamis, 16 Desember 2010

Just Try To Write...

Kriiiing, kriiiiing,kriiiiing, pak pos lewat tepat di depan sekumpulan akhwat yang sedang LIQO’ ( ngaji ), tiba-tiba pak pos menghampiri mereka
“assalamu’alaikum”
“waa’alaikumussalam” jawab akhwat serempak
“afwan, ukhti… ini ada surat untuk mujahidah” kata pak pos
“ooooh… syukron pak”
“ya.. afwan” jawab pak pos singkat, sesingkat beliau mampir ke tempat itu
“assalamu’alaikum” pamit pak pos
“wa’alaikum salam” jawab jilbaber serempak tak sabaran merekapun membuka surat yang baru saja di terimanya. Bereweeeek, sebuah amplop berwarna pink di sobek, lalu seorang murobbiyah pun membacanya, dan mutarobbbiyah khusyu mendengarkannya

“ assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh “ seuntai kata dari surat itu mulai di baca
“wa’alaikum salam warahmatullahi wabaraktuh” jawab jilbaber lagi-lagi kompak
“ukhti… yang di nantikan syurga “ satu persatu murobbiyah mulai mengalirkan kata-kata surat yang di bacanya

Ukhti…Besarnya kerudungmu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat jihadmu menuju ridho tuhanmu,mungkinkah besarnya kerudungmu hanya di gunakan sebagai fashion atau gaya jaman sekarang, atau mungkin kerudung besarmu hanya di jadikan alat perangkap busuk supaya mendapatkan ikhwan yang diidamkan bahkan bisa jadi kerudung besarmu hanya akan di jadikan sebagai identitasmu saja, supaya bisa mendapat gelar akhwat dan di kagumi oleh banyak ikhwan

Ukhti…tertutupnya tubuhmu tidak menjamin bisa menutupi aib saudaramu, keluargamu bahkan diri antum sendiri, coba perhatikan sekejap saja, apakah aib saudaramu, teman dekatmu bahkan keluargamu sendiri sudah tertutupi, bukankah kebiasaan buruk seorang perempuan selalu terulang dengan tanpa di sadari melalui ocehan-ocehan kecil sudah membekas semua aib keluargamu, aib sudaramu, bahkan aib teman dekatmu melalui lisan manis mu

Ukhti…lembutnya suaramu mungkin selembut sutra bahkan lebih dari pada itu, tapi akankah kelembutan suara antum sama dengan lembutnya kasihmu pada sauadaramu, pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang menginginkan kelembutan dan kasih sayangmu

Ukhti…lembutnya parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan anak-anak palestina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa sekalipun dengan tetes darah terakhir, akankah selembut itu hatimu ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang ogah dan cuek melihat ketertindasan orang lain.

Ukhti…Rajinnya tilawahmu tak menjamin serajin dengan shalat malammu, mungkinkah malam-malammu di lewati dengan rasa rindu menuju tuhanmu dengan bangun di tengah malam dan ditemani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh ke tempat sujud mu serta lantunan tilawah yang tak henti-hentinya berucap membuat setan terbirit-birit lari ketakutan, atau sebaliknya, malammu selalu di selimuti dengan tebalnya selimut setan dan dininabobokkan dengan mimpi-mimpi jorokmu bahkan lupa kapan bangun shalat subuh.

Ukhti…Cerdasnya dirimu tak menjamin bisa mencerdaskan sesama saudaramu dan keluargamu, mungkinkah temanmu bisa ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya seperti yang antum dapatkan, ataukah antum tidak peduli sama sekali akan kecerdasan temanmu, saudaramu bahkan keluargamu, sehingga membiarkannya begitu saja sampai mereka jatuh ke dalam lubang yang sangat mengerikan yaitu maksiat

Ukhti…cantiknya wajahmu tidak menjamin kecantikan hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan diri antum sendiri, pernahkah antum menyadari bahwa kecantikan yang antum punya hanya titipan ketika muda, apakah sudah tujuh puluh tahun kedepan antum masih terlihat cantik, jangan-jangan kecantikanmu hanya di jadikan perangkap jahat supaya bisa menaklukan hati ikhwan dengan senyuman-senyuman busukmu

Ukhti…tundukan pandanganmu yang jatuh ke bumi tidak menjamin sama dengan tundukan semangatmu untuk berani menundukan musuh-musuhmu, terlalu banyak musuh yang akan antum hadapi mulai dari musuh-musuh islam sampai musuh hawa nafsu pribadimu yang selalu haus dan lapar terhadap perbuatan jahatmu,

Ukhti…tajamnya tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjamin sama dengan tajamnya kepekaan dirimu terhadap warga sesamamumu yang tertindas di palestina, pernahkah antum menangis ketika mujahid-mujahidah kecil tertembak mati, atau dengan cuek bebek membiarkan begitu saja, pernahkah antum merasakan bagaimana rasanya berjihad yang dilakukan oleh para mujahidah-mujahidah teladan

Ukhti…lirikan matamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati saudaramu yang senang bermaksiat, coba antum perhatikan dunia sekelilingmu masih banyak teman, saudara bahkan keluarga antum sendiri belum merasakan manisnya islam dan iman mereka belum merasakan apa yang antum rasakan, bisa jadi salah satu dari keluargamu masih gemar bermaksiat, berpakaian seksi dan berprilaku binatang yang tak karuan, sanggupkah antum menggetarkan hati-hati mereka supaya mereka bisa merasakan sama apa yang kamu rasakan yaitu betapa lezatnya hidup dalam kemuliaan islam

Ukhti…tebalnya kerudungmu tidak menjamin setebal imanmu pada sang Khaliqmu, antum adalah salah satu sasaran setan durjana yang selalu mengintai dari semua penjuru mulai dari depan belakang atas bawah semua setan mengintaimu, imanmu dalam bahaya, hatimu dalam ancaman, tidak akan lama lagi imanmu akan terobrak abrik oleh tipuan setan jika imanmu tidak betul-betul dijaga olehmu, banyak cara yang harus antum lakukan mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan seharusnya di lakukan sejak dari sekarang, kapan lagi coba….

Ukhti…Putihnya kulitmu tidak menjamin seputih hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan keluargamu sendiri, masihkah hatimu terpelihara dari berbagai penyakit yang merugikan seperti riya dan sombong, pernahkah antum membanggakan diri ketika kesuksesan dakwah telah diraih dan merasa diri paling wah, merasa diri paling aktif, bahkan merasa diri paling cerdas diatas rata-rata akhwat yang lain, sesombong itukah hatimu, lalu di manakah beningnya hatimu, dan putihnya cintamu

Ukhti…rajinnya ngajimu tidak menjamin serajin infaqmu ke mesjid atau mushola, sadarkah antum kalo kotak-kotak nongkrong di masjid masih terliat kosong dan menghawatirkan, tidakkah antum memikirkan infaq sedikit saja, bahkan kalaupun infaq, kenapa uang yang paling kecil dan paling lusuh yang antum masukan, maukah antum di beri rizki sepelit itu.

Ukhti…rutinnya halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunnah senin kamis yang antum laksanakan, kejujuran hati tidak bisa di bohongi, kadang semangat fisik begitu bergelora untuk di laksankan tapi, semangat ruhani tanpa di sadari turun drastis, puasa yaumul bidh pun terlupakan apalagi puasa senin kamis yang dirasakan terlalu sering dalam seminggu, separah itukah hati antum, makanan fisik yang antum pikirkan dan ternyata ruhiyah pun butuh stok makanan, kita tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi

Ukhti…manisnya senyummu tak menjamin semanis rasa kasihmu terhadap sesamamu, kadang sikap ketusmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan yang antum lewati, sikap ramahmu pada orang yang antum temui sangat jarang terlihat, bahkan selalu dan selalu terlihat cuek dan menyebalkan, kalau itu kenyataannya bagaiamana orang lain akan simpati terhadap komunitas dakwah yang memerlukan banyak kader, ingat!!! Dakwah tidak memerlukan antum tapi… antumlah yang memerlukan dakwah, kita semua memerlukan dakwah

Ukhti…rajinnya shalat malammu tidak menjamin) keistiqomahan seperti rosulullah sebagai panutanmu,

Ukhti…ramahnya sikapmu tidak menjamin seramah sikapmu terhadap sang Kholiqmu, masihkah antum senang bermanjaan dengan Tuhanmu dengan shalat dhuhamu, shalat malammu?

Ukhti…dirimu bagaikan kuntum bunga yang mulai merekah dan mewangi, akankah nama harummu di sia-siakan begitu saja dan atau sanggupkah antum ketika sang mujahid akan segara menghampirimu

Ukhti…masih ingatkah antum terhadap pepatah yang masih terngiang sampai saat ini bahwa akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik, jadi siap-siaplah sang syuhada akan menjemputmu di pelaminan hijaumu

Ukhti…Baik buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan sukses masuk dalam surga Rabbmu. Maka tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang molek, tapi berbanggalah ketika iman dan taqwamu sudah betul-betul terasa dan terbukti dalam hidup sehari-harimu

Ukhti…muhasabah yang antum lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung kejelekan dan kebusukan kelakuan antum yang dilakukan siang hari, atau bahkan kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu, sungguh lupa dan sirna tidak ingat sedikitpun apa yang harus di lakukan sebelum tidur, antum tidur mendengkur begitu saja dan tidak pernah kenal apa itu muhasabah sampai kapan akhlaq busukmu di lupakan, kenapa muhasabah tidak dijadikan sebagai moment untuk perbaikan diri bukankah akhwat yang baik hanya akan mendapatkan ikhwah yang baik

Ukhti…pernahkah antum bercita-cita ingin mendapatkan suami ikhwan yang ideal, wajah yang manis, badan yang kekar, dengan langkah tegap dan pasti, bukankah apa yang antum pikirkan sama dengan yang ikhwan pikirkan yaitu ingin mencari istri yang solehah dan seorang mujahidah, kenapa tidak dari sekarang antum mempersiapkan diri menjadi seorangan mujahidah yang solehah

Ukhti…apakah kebiasaan buruk wanita lain masih ada dan hinggap dalam diri antum, seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama nonton tv yang tidak karuan dan hanya kan mengeraskan hati sampai lupa waktu, lupa bantu orang tua, kapan akan menjadi anak yang birrul walidain, kalau memang itu terjadi jadi sampai kapan, mulai kapan antum akan mendapat gelar mujahidah atau akhwat solehah

Ukhti…apakah pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura nunduk ketika melihat seorang ikhwan dan terlepas dari itu matamu kembali jelalatan layaknya mata harimau mencari mangsa, atau tundukan pandangannmu hanya menjadi alasan belaka karena merasa berkerudung besar

Ukhti… hatimu di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, sanggupkah antum menjaga izzah yang antum punya, atau sebaliknya antum bersikap acuh tak acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan merusak citra akhwat yang lain, kadang orang lain akan mempunyai persepsi disamaratakan antara akhwat yang satu dengan akhwat yang lain, jadi kalo antum sendiri membuat kebobrokan akhlaq maka akan merusak citra akhwat yang lain

Ukhti…dirimu menjadi dambaan semua orang, karena yakinlah preman sekalipun, bahkan brandal sekalipun tidak menginginkan istri yang akhlaknya bobrok tapi semua orang menginginkan istri yang solehah, siapkah antum sekarang menjadi istri solehah yang selalu didamba-dambakan oleh semua orang

Selesai membaca, tak terasa murobbiyah dan mutarobbiyah pun mengeluarkan butiran-butiran halus dari matanya, mereka menangis, meratapi dan muhasabah bersama dalam liqo’atnya….

Mudah2an bermanfaat……..

Selasa, 14 Desember 2010

rindu lagi... lagi - lagi rindu....

Rindu Buat Kekasih
Pagi itu diam …….
Ketika Pucuk pucuk cemara terpaku bisu
Membawa jiwaku mengembara…
Hingga menembus batas lamunku..
...
Di sini ……..
Masih Aku simpan setangkup rindu untukmu
Di sudut hati, dimana keresahan membias sendu
Hingga lelah hati temani sepiku..
Entah….

mencintaimu


Mencintaimu bukanlah sebuah pilihan
Sebab hati tak mampu berpikir seperti logika
Datang tiba-tiba...
hasrat ingin selalu berdua
Mencintamu adalah rasa yang indah
Mereka hanya bisa melarang tanpa mengerti
Mereka hanya menolak tanpa berpikir bijak
Mereka hanya tak mau tanpa menelusuri kedalaman batinku
Mereka hanya bisa berpikir menurut mereka
Mencintaimu adalah sebuah karunia
Meski kau ada,dunia juga tak selalu indah...
Tapi denganmu aku selalu bahagia..
Mencintaimu bangkitkan semangat sepenuh jiwa
Hadapi hari-hari yang tak selalu cerah
Semoga kelak mereka mampu mengerti
Semoga kelak mereka dapat menjadi bijak
Semoga kelak terbuka hati nurani
Semoga kelak terbuka pintu bahagia seutuhnya
Selamanya...

Entah.....


Aku semakin merasa mencintai hujan … Karena hujan benar-benar hadir saat aku merindukan nya … Saat aku benar-benar membutuh kan nya … Hujan seakan-akan mengikuti takdir kesedihan ku …

Hari yang indah sebenar nya … Dari sebuah sudut ruangan kaca … Aku menatap hujan, lekat dan dalam … Mencoba menahan tetes air mata yang sudah berada dipelupuk mata ku … Aku amat merasa sendiri … Kelam nya langit dan gemuruh nya angin seakan melukis kan perasaan hati ku saat ini … Ingin aku berlari kedalam mu, hujan !!! Dan bersama mu menghilang kan desir-desir kegalauan hati ku.

Yaa Allah,

jika memang air mata ini harus mengalir dengan deras nya sore ini seperti hujan yang telah Engkau tumpah kan, jadi kan lah ini air mata terakhir ku … Dan jika memang Engkau ijin kan, cabut lah semua keresahan, kegelisahan dan kesedihan dalam hati ku … Ijin kan aku untuk tidak merasakan nya sampai nafas ini Engkau cabut … Biar kan aku hidup hanya untuk menyebut Mu …

Jika memang bisa, jangan jadi kan aku seorang Dewi lagi … Aku tidak mau jadi seorang Dewi yang terlalu berperasa, tidak mau jadi seorang Dewi yang sensitif, aku tidak mau jadi seorang Dewi yang bermanja dalam kehidupan nya, aku tidak mau jadi seorang Dewi … Aku sudah terlalu capek dan lelah dengan diri ku yang sekarang … Ijin kan aku untuk bisa merubah nya … Karena kesalahan demi kesalahan aku lakukan berulang kali … Dan aku lah yang bersalah atas semua nya … Aku hanya hamba Mu yang bodoh …

Hidup untuk bermimpi kah atau Mimpi untuk hidup kah ??? … Aku merasa tidak untuk semua nya saat ini … Aku hanya merasa, aku adalah seorang Dewi yang hanya mengikuti jalur cerita kehidupan nya saja, tanpa syarat, tanpa rasa …

Rindu


Pada sebuah rasa yang tak berujung dalam penantian

menyusuri semak semak hati,pilar pilar rindu

di sebuah relung hatiku yang tertunduk khusuk

menatap rindu itu,menggenggam erat erat bersama kata kata setiaku


terbesit sebuah tanya di hatiku

kapankah kehadirannya menjelma menjadi nyata......?


pada sebuah wajah yang begitu selalu aku mengingatnya

sebuah pesona yang mampu membuatku memintal rajutan asa

telah aku lafazkan kata kata indah di hatinya

bersama do`a yang tercurah dalam setiap sujudku


pada senyummu yang hanya bisa ku pandangi

di album photomu

jauh dari pandangan mataku kenapa tercipta

nuansa rasa di hatiku untuk senantiasa merinduimu

dah selalu mengagumimu

Senin, 13 Desember 2010

tentang rindu


rindu adaLah aroma rumput basah di pagi hari yang membangunkan ku. hembusan angin di pucuk pucuk pohon di tengah hari yang menghanyutkan ku. daun berguguran yang dikumpuLkan dan berganti pucuk tunas yang menyenangkan. Langit memerah di ujung senja yang seLaLu mencoba menuntun ke rumah.

rindu adaLah tuLisan tuLisan tanpa kata kata yang ku goreskan tanpa jeda meLaLui pikiran. tuLisan tuLisan kosong tanpa akhir di kertas kertas buram yang terasingkan. di pinggir meja berantakan yang tak pernah dibereskan.

rindu adaLah tetesan hujan dari awan yang ditumpahkan ke bumi. menanti mentari menari bersama peLangi. rindu adaLah mereka yang gembira karena nya. dan rindu adaLah mereka yang terLuka karena nya.

rindu adaLah jejak jejak kaki di tanah basah, noda noda pada sepatu di pematang sawah, dan garis garis roda di jaLan sehabis hujan reda. rindu adaLah bayangan yang membias di kaca jendeLa.

rindu adaLah kata kata yang mengaLir tanpa pernah direncanakan, tanpa pernah diharapkan. suara hati yang hanya terdengar oLeh ku. hanya terdengar oLeh mereka yang merasa rindu.

rindu adaLah nyanyian tanpa nada yang tak bosan ku senandungkan maLam maLam tanpa suara daLam sunyi. nyanyian tanpa irama yang tak henti ku gumamkan daLam hati.

rindu adaLah pintu kamar yang tak pernah terbuka, pintu kamar yang menyimpan cerita. tentang apa ? aku pun tak pernah tahu apa itu. dan sebaiknya tak ada yang tahu.

rindu adaLah aku, sesosok tubuh yang menua tapi seLaLu tahu bahwa akan ada hari untuk tersenyum saat meLihat siapa yang datang pada suatu hari nanti. sosok yang kemudian terdiam dan terpaku daLam kenangan.

untuk semua orang di dunia ini yang merasa rindu dan dirindukan.
untuk kamu.
siapa pun anda, anda seLaLu dinantikan.

Penantian Pernikahan


Tidak ada yang salah manakala seorang muslimah merindukan cinta dan kasih sayang dari seseorang yang diharapkan akan menjadi pendamping hidupnya. Setiap insan termasuk seorang muslimah pun berhak dan lumrah untuk merasakan kerinduan semacam itu. Meskipun tak terungkap secara lisan, penantian dan impian untuk menggapai sebuah mahligai pernikahan adalah puncak gelisah dan kerinduan yang merupakan salah satu bentuk ujian seorang gadis muslim.

‘penantian’ yang tanpa didasari oleh memahami makna dibaliknya terasa sangat menjemukan, tetapi bagi org yg faham penantian adalah kalau dirasakan adalah sebuah keindahan juga... karena akan mengajari kita utk lebih memahami arti sabar dan ridho...

Memang, penantian tidaklah membutuhkan tenaga yang ekstra besar. Namun, sebagian besar manusia pun mengakui bahwa penantian adalah salah satu pekerjaan yang sangat melelahkan. Terlebih lagi penantian untuk sebuah pernikahan, ini merupakan sebuah penantian besar yang sangat melelahkan. Karena, dalam penantian inilah syaithon-syaithon dalam bentuk nafsu dan syahwat senantiasa menghampiri. Manakala seorang gadis tengah berada dalam lelahnya sebuah penantian, maka pada saat itulah syaithon-syaithon sedang menatapnya sebagai sebuah sarapan pagi yang lezat dan siap untuk disantap. Oleh karena itu, seorang muslimah hendaknya benar-benar mengerti hal-hal yang sebaiknya ia lakukan dalam masa penantiannya. Dengan demikian, penantiannya untuk sebuah pernikahan yang indah dan suci tidak akan sia-sia, dan Allah akan memberikannya seorang pendamping Robbani dalam pernikahan yang telah menjadi impian

Pernikahan itu bagaikan membuka sebuah tabir rahasia..... proses pencapaiannya melewati suatu perjalanan yang panjang... kadang untuk menuju ke sana Allah Yang Maha Bijaksana memberi kesusahan untuk menguji kita.. tak jarang melukai hati, hingga hikmahnya tertanam dalam.. tak perlu kita pertanyakan, "apa maksud Allah...?" karena Allah pasti mempunyai alasan tersendiri yang belum kita mengerti...

Dan Allah sebagai Maha Pemberi pastinya mengetahui kapan waktu hasil tersebut mesti diberikan kepada hambanya. Dan Allah pun Maha Melihat dari tiap usaha hambanya. Penantian dari sebuah usaha agar mendapatkan hasil yang paripurna.

Pernikahan adalah dambaan bagi setiap insan, tidak terkecuali seorang muslimah. Dan menunggu pangeran sholih yang akan menjemputnya menuju mahligai pernikahan yang sakral, bukanlah perjuangan yang ringan. Gelisah, gundah, tanda tanya, harap, cemas, semua membaur menjadi satu. Namun, sekali lagi pernikahan bukanlah ikatan yang dapat dijalin dengan “mau” saja. Untuk menuju pernikahan yang barokah, dibutuhkan bekal-bekal yang benar dan cukup. Jangan sampai kita kehabisan bahan bakar ataupun perbekalan ketikan sedang menyelami lautan pernikahan. Terlebih lagi menyelami lautan pernikahan tanpa membawa bekal, anda akan kelaparan dan kehausan. Jangan sampai anda melupakan peta dan kompas manakala hendak menjelajahi belantara pernikahan.

Pernikahan yang barokah adalah pernikahan yang dilandasi dengan nilai-nilai iman dan takwa. Hanya pernikahan yang barokahlah yang akan memberikan kebagiaan dunia dan akhirat. Pernikahan dibawah naungan islam, pernikahan dibawah naungan Allah adalah pernikahan yang menjadi dambaan orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Tiga langkah di atas merupakan secuil ikhtiar yang jika direalisasikan dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan keistiqomahan, insya Allah akan menjaga diri kita dari godaan-godaan yang menerpa manakala berada disebuah jalan menuju pernikahan. Dan insya Allah akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat dalam mengaruhi bahtera pernikahan kelak.

Menunggu itu satu pilihan, kalaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa, walaupun kita ingin cepat, kita tidak ingin sembarangan, karena segala sesuatu yg dilakukan dg sembarangan tentulah hasilnya tdk memuaskan.

Maka janganlah bermurung durja dalam menanti, sebab demikian menyumbat hasil atas jawaban yang diingini. Akan tetapi hiasi momentum penantian dengan manfaat yang menyisakan penantian berikutnya. Agar ketika satu penantian terjawab memuaskan, maka telah ada usaha yang terserahkan untuk dinanti jawaban berikutnya. Berputar mengisi tanpa henti aliran deras penuh tekanan bernama ketawakalan.

Jumat, 03 Desember 2010

*saat sang hujan memelukku*

Dalam pelukan sang hujan aku tertawa dan menangis bersamaan
Hanya dalam pelukan sang hujan aku bisa membenci dan menciantai mu
Dan hanya dalam pelukan sang hujan aku bisa melihat wajah mu.
Dia yang hidup dari warna pelangi.
Yang akan datang sesaat setelah sang hujan meninggalkan jejak.
Dan akan pergi seketika mentari tampak.

Begitu mencintai mu dengan sayap pelangi
dan membenci mu karena tak pernah tinggal lama.

Ku rela menanti sang hujan yang dingin.
Yang akan memmelukku erat dalam riakan air kedukaan hanya untuk melihat mu datang sesaat.
Penantian yang panjang, melelahkan menjemukan dan memuakkan
Tapi aku tetap akan menunggu mu.

Aku tak perduli.
Walau sang hujan akan mengambil sedikit-demi sedikit nyawa ku untuk persembahan.
Aku tak perduli.
Walau aku pasti akan mati dalam pelukan sang hujan.
Karena pada akhirnya aku juga pasti akan mati karena merindukan nya.

*saat pelangi setelah hujan*

**
Dan sejatinya hanya sang hujan yang selalu bersedia memeluk ku.
Mengapus air mata ku dan membuat ku tertawa
Yang telah membuat aku jatuh cinta dan terus merindu…

*saat sang hujan memelukku*

Di MAta Mu Ku Lihat Cinta





Di binar indah matamu, kutemui hasrat dan asa..
Di situ ada kasih, sayang dan cinta..
Binar itu mengingatkan aku pada rasa suka..
Begitu menggetarkan hati dan rasa

Saat kutatap binar indah mata itu..
Dapat kulihat betapa banyak sayang disitu..
Seperti meteor yang jatuh tanpa jemu..
Menghujami jantungku, jiwaku bahkan ragaku

Dimatamu ada cinta..
Hal yang paling misterius dalam dunia fana..
Cinta yang begitu bercahaya..
Seakan cahaya itu lah sumber binar di mata

Ah, saat kulihat binar indah matamu..
Kutemukan jawaban dari semua pertanyaan tolol itu..
Adakah cinta untuk sepotong hatiku?
Yah, ada, pasti lah itu ...
Ada disinar matamu

Dimatamu ada cinta yang indah..
Mengajakku merajut mimpi tanpa gundah..
Merenda sayang, asa dan kasih..
Aku cinta kepadamu ...
Karena dimatamu kulihat cinta
RH

Aq dan Sepi

aku disini berdiri terkulai menanti mimpi yang terkembang diatas mimpi. Sebuah harap yang mengatasnamakan cinta terbang tanpa sayap yang telah patah, menjelajah semesta yang penuh dusta dan kepalsuan memaknai cinta sebagai satu keindahan, bukan benih kecewa bertunas dendam

dibentang cakrawala dunia diantara fatamorgana dan fenomena cinta dan dusta kucoba tuk berontak, lepas dari belenggu keraguan, bebas, tanpa sekat dan batas

secercah harapan terkuak meniti ke ujung mimpi meraih kristal kebahagiaan yang hilang dibalik terali. Terali kebisuan berkarat dalam jiwa yang sekarat

kepak sayap cinta bersama lesat panah kerinduan berbalut sinar harapan menabrak karang kepalsuan terhempas ombak kenestapaan

dan disinilah aq bersama mimpi dan sepi ku.

Risalah Sepi

Hanya jemari lembut menari
Menggoreskan kata demi kata
Ungkapan hati dalam sepi
Kata hati yang tak pernah berdusta
Tentang kenangan tentang cinta dan airmata

Di kamar hati ini
Masih ada tersembunyi
Kenangan yang tak mampu terlupakan
Jari jemari masih menari
Mengikuti irama suara hati
Tentang kenangan masa yang lalu

Kenangan yang indah
Kenangan yang memilukan
Semua masih terukir disana
Hingga membentuk satu warna
Warna kerinduan

Berkaca jernih ingatan
Tentang semua yang pernah terasakan
Yang pernah terlihat dalam pandangan
Manisnya pertemuan
Pahitnya perpisahan
Segalanya tak dapat terungkapkan

Semua terasa membeku
Setiap ungkapan baris kata
Kadang terasa hambar
Kini berteman sepi

Sendiri menjalani Suka dan duka
Sendiri melangkah pergi
Tanpa menoleh lagi
Kenangan silam
Tinggal tertulis kini
Dalam sebuah puisi
Hingga jemari lelah menari

Membariskan puisi sebuah pengalaman
Ungkapan jiwa cinta dan airmata
Di kamar sepi hati
Titisan membasahi pipi
Dan tak tahu lagi
Pada siapakah harus mencurahkan
Semua yang terasakan saat ini?
r h

Kamis, 02 Desember 2010

Rinai Hujan



RINTIK AIR HUJAN MENYAPU KERING..

DERAS AIR HUJAN MENYAPU KERONTANG..

TAPI HATI INI MASIH TERASA SEPI..

TAPI SEPI DI HATI INI TAK BERGEMING..

TITIK AIR MATA MEMBASAHI PIPI..

SESAK TERASA DI DADA..

ENTAH APA YANG DITANGISI..

ENTAH APA GERANGAN YANG DIRASA..

BERLARI DI BAWAH RINAI HUJAN..

BERHARAP PADA HUJAN MEMBERI JAWABAN..

MEMBALUT HATI YANG PERIH..

MEMBALUT JIWA YANG SEPI..

BERLARI DI BAWAH RINAI HUJAN..

BERHARAP PADA HUJAN MEMBERI PENAWAR..

MENAWAR HATI YANG TERACUNI..

ATAS JANJI CINTA YANG SUCI..

entah

Tiada suatu yang abadi dalam hidup, tiada lereng yang tak bercelah, keteguhan dan ketegaranku selama ini, perlahan terkikis dengan derasnya angin yang dihembuskan sang penguasa, meski ku coba tuk berdiri , namun aku terjatuh dan terjatuh lagi.

Kini kusandarkan tubuhku dibawah Pohon kerinduan, perlahan namun pasti sinar tubuhmu kian memudar, hingga akhirnya hanya bayangmu yang tersisa, akupun terdiam dalam sepi, tiada kata yang terucap tiada tangis yang kucurahkan, langkahku terasa berat, namun aku harus melangkah meski hanya dengan bayangmu.

Karena setiap nafas yang kuhembuskan ada cinta yang mengalir, meski kini engkau telah berlalu terpisah jarak dan waktu namun sinar cintakukan selalu menerangi setiap harimu.

Nilai Sebuah Cinta

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak: ada CINTA, KEKAYAAN,KECANTIKAN, KESEDIHAN, KEGEMBIRAAN dan sebagainya.



Awalnya mereka hidup berdampingan dengan baik dan saling melengkapi. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik semakin tinggi dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.



CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki CINTA.Tak lama CINTA melihat KEKAYAAN sedang mengayuh perahu."KEKAYAAN! KEKAYAAN! Tolong aku!" teriak CINTA.



Lalu apa jawab KEKAYAAN, "Aduh! Maaf,CINTA!" kata KEKAYAAN. "Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini." Lalu KEKAYAAN cepat-cepat mengayuh perahunya pergi meninggalkan CINTA tenggelam.



CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya KEGEMBIRAANlewat dengan perahunya. "KEGEMBIRAAN! Tolong aku!", teriak CINTA. Namun apa yang terjadi,KEGEMBIRAAN terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tuli tak mendengar teriakan CINTA.



Air makin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik. Tak lama lewatlah KECANTIKAN. "KECANTIKAN! Bawalah aku bersamamu!", teriak CINTA. Lalu apa jawabKECANTIKAN, "Wah, CINTA, kamu basah dan kotor.Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut KECANTIKAN.



CINTA sedih sekali mendengarnya. CINTA mulai menangis terisak-isak. Apa kesalahanku, mengapa semua orang melupakan aku.Saat itu lewatlah KESEDIHAN. Lalu CINTA memelas, "Oh, KESEDIHAN, bawalah aku bersamamu", kata CINTA. Lalu apa kata KESEDIHAN, "Maaf, CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja...", kata KESEDIHAN sambil terus mengayuh perahunya.



CINTA putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. CINTA terus berharap kalau dirinya dapat diselamatkan.



Lalu ia berdoa kepada Tuhannya, oh tuhan tolonglah aku, apa jadinya dunia tanpa aku, tanpa CINTA? Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "CINTA! Mari cepat naik ke perahuku!" CINTA menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua reyot berjanggut putih panjang sedang mengayuh perahunya. Lalu Cepat-cepat CINTA naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.



Kemudian di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan CINTA dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA sadar, bahwa iasama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang baik hati menyelamatkannya itu. CINTA segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu.



"Oh, orang tua tadi? Dia adalah "WAKTU", kata orang itu.Lalu CINTA bertanya "Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku", tanya CINTA heran. "



Sebab", kata orang itu,"hanya WAKTU lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari CINTA itu.