Kadangkala kita memang dihadapkan pada situasi yang dilematis. Kehilangan adalah suatu yang menyedihkan. Namun apakah kita akan membiarkan jiwa kita melayang-layang di lautan ego yang belum tentu benar?
Tentu saja tidak. Ini bukan masalah benar atau salah. Tapi bagaimana agar kita tak perlu menumpahkan airmata sia-sia.
Engkau adalah sebutir benih yang kelak akan tumbuh. Mungkin saja kelak engkau jadi sebatang pohon flamboyan raksasa yang tegar menantang langit. Atau mungkin engkau menjalar di atas tanah dan menghias pekarangan rumah. Atau bias jadi engkau tegak semampai, bercumbu mesra dengan angin yang membelai.
Maka lihatlah siapa yang kelak menjagamu. Memagarimu dari setiap benalu. Menyirami dengan seribu cerita tentang indahnya masa. Merawatmu saat engkau tidur maupun terjaga.
Engkau mungkin hanya sebutir benih. Namun tetap saja engkau adalah makhluk yang tercipta melalui proses paling rumit di alam semesta. Dia yang memberimu segalanya. Maka engkau adalah pelaksana akan segala titahNya, dan hanya kepadaNya engkau kembali bersua. Lalu apakah dalam genangan waktu yang kita tak pernah tahu kapan akan berlalu dan mengekalkan segala janji; engkau akan senantiasa diam dan mengeluhkan; mengapa langit begitu tinggi sedangkan tiap jeritan hanya bergema di hati?
Engkau tak perlu ragu melangkah. Karena tiap langkah akan meninggalkan jejak. Dan tiap jejak akan bersinar dan kelak menjelma jadi benih-benih bintang. Dan tiap benih bintang akan mengajarkanmu : ‘sesaat itu abadi’.
Sedih itu pasti tapi menangis itu pilihan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar