Senin, 11 Oktober 2010

:di beranda itu, aku ingin menunggumu, lagi

hati membadai, membaca sajak hujan.
meniti rinai yang semakin abstrak
jatuh di telapak kelopak melati
yang menggeliat dicumbu angin
daun ketapang kering jatuh luruh
luruh bersama tetes air yang memburai
dari perut langit, yang memekik.
terkenang di sudut benak

hati membadai, teringat rindu
menunggumu di beranda depan
di salah satu sisi semadi
yang telah mulai terlupa.
hanya ingatan tentang tetesan
pucuk air di pucuk daun,
tentang keping batu yang tersusun
menghitam, tergambar basah
di bawah tapak-tapak langkah
yang menyusun hari-hari

hati membadai, lukisan-lukisan tua
memaksa datang, menelikung dari balik sunyi
seolah ketitir berdendang asmarandana
memenuhi loka dengan nada-nada
bagai cenderasa yang menghujam, menikam
di atas kayu coklat tua, jiwa terlena
o, kapankah datang lagi tembang itu ?
biar mengisi ruang, yang kini mulai kosong
yang bersusah menepis getir,
menelan rindu yang semakin pahit

:di beranda itu, aku ingin menunggumu, lagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar