Pernah merasa sepi, sunyi, sendiri?
Pasti pernah.
Kenapa
ia hadir? Milik siapakah ia? Milik si miskin atau si kaya, yang beriman
atau kufur, yang tua atau muda, yang berjaya atau papa?
Kita sering berfikir bahwa yang sering merasa sepi adalah yang sendiri, yang merasa sunyi adalah yang miskin harta. Benarkah?
Sepi,
sunyi adalah rasa yang penuh misteri. Kita merasakannya tapi berbeda
maknanya bagi setiap orang. Bagi sebagian orang sepi, sunyi identik
dengan menyedihkan, menyedihkan identik dengan seuatu yang tak di sukai.
Bagi sebagian orang, sepi, sunyi tak selalu tak di sukai walau kadang
memang menyedihkan perasaan.
Bagi yang merasa sepi, sunyi sesuatu
yang tak di sukai cenderung mencari pelampiasan atau penghiburan.
Caranya juga macam macam, tapi rata rata yang merasa sunyi selalu
mencari keramaian. Ke pesta, pertemuan kelurga, atau bikin pesta
sesering mungkin dan minimal kalau itu tak memungkinkan menghidupkan
tape recorder atau TV, Radio untuk 'menemani'.
Merasa membutuhkan
berarti ada yang kurang dalam diri kita. Seperti haus atau lapar,
menandakan tubuh kita telah kehilangan cairan dan butuh pengganti. Pun
merasa sunyi, sepi, berarti kita membutuhkan sesuatu. Permasalahannya
adalah banyak kita tak mengerti apa sebenarnya yang di pinta oleh 'rasa
sepi dan sunyi' itu.
Selama ini sepi obatnya ya keramaian, benarkah?
Jika
ini mutlak benar ada orang yang tetap merasa sunyi dan sepi walau di
keramaian, akhirnya mereka bosan padanya (sebagian) dan mencari obat
sepi dan sunyi yang lain. Pada orang orang kaya mereka mencarinya dengan
membuat pesta tiap minggu, seperti perlakuan banyak artis dan aktor,
pejabat yang kaya, orang orang ternama seperti Paris Hilton misalnya.
Keramaian
itu ternyata juga tak terlalu menghibur maka mereka butuh yang lebih
'menghanyutkan', minuman keras awalnya, tapi semakin lama sang sepi tak
juga pergi maka perlu di tambah 'penghibur yang lain' seperti opium,
ganja dan segala macam obat obatan terlarang. Tapi masih kurang, mereka
butuh yang lebih 'menyenangkan' seperti perempuan dan lelaki
'penghibur'. Tak juga memuaskan rasa sepi, mereka menambah dosisnya ,
lagi, lagi, lagi,.. hingga sang Raja Sepi sesungguhnya memeluknya di
alam kubur.
Mereka yang mengkonsumsi obat obatan terlarang itu,
yang mencari lelaki dan perempuan penghibur itu, yang selalu mencari
perhatian publik, seperti para artis di mana saja yang selalu ingin
tampil beda itu, orang orang kaya yang membeli satu plat mobil dengan
harga milyaran (seperti tindakan seorang miilyuner dari Arab :) itu,
milyarder milyarder yang membangun istana istana itu, yang mengoleksi
segala lukisan lukisan mahal itu, atau mereka yang mengoleksi permata
yang di pakai hanya setahun sekali itu hanyalah orang orang yang mencari
'teman', penawar sepi. Hanya itu!. Seperti Michael Jackson (almarhum),
Madonna, Agnes Monica dan ribuan selebritis di dunia atau orang kaya
yang berusaha membeli 'teman penawar sepi' dengan uangnya. Tapi mereka
tak pernah menemukannya......
Sang sepi semakin merajalela,
menguasai seluruh singgasana jiwa. Karena harta, kecantikan, ketampanan,
kejayaan adalah sang raja baru yang selalu membutuhkan 'teman
penghibur'. Jutawan membutuhkan orang miskin agar tetap menjadi kaya,
yang cantik dan tampan selalu membutuhkan yang jelek agar tetap menjadi
cantik dan tampan, sang artis selalu membutuhkan fans sebagai pemuja,
pemimpin selalu membutuhkan pengikut agar menjadi ketua, sang raja
selalu membutuhkan rakyat untuk berkuasa. Tanpa teman penghibur itu
jutawan, artis, yang cantik dan tampan, para pemimpin bukanlah apa apa
dan tak pernah menjadi siapa.
Mereka para raja, artis dan aktor,
yang cantik dan tampan, para jutawan yang tak tahu di mana bisa mencari
penawar sepi itu adalah orang orang miskin dan papa. Mereka butuh
'makanan' untuk semua raja raja baru itu. Raja kebesaran seringnya
berkerabat dekat dengan keangkuhan. Dan keangkuhan adalah lambang
kemiskinan yang paling parah. Angkuh selalu membutuhkan orang orang yang
lebih 'rendah' untuk menjadi besar.
Apakah orang miskin, yang jelek, bukan jutawan, bukan artis, bukan pemimpin tak pernah merasa sepi dan sunyi?
Pernah!
Hanya
tipenya beda dengan yang di atas. Mereka ini cenderung lebih mudah
menemukan 'teman penghibur sementara'. Yang miskin bisa menangis bahagia
ketika seseorang memberinya seekor ayam untuk lebaran esok hari, tapi
bagi si jutawan, semilyar ayampun tak berarti apa apa. Bagi si jelek
bisa tersenyum sepanjang hari di depan cermin karena seseorang tersenyum
padanya di sebuah kenderaan umum, tak peduli siapa. Tapi bagi seorang
yang terkenal punya banyak fans, atau punya banyak pengikut seseorang
yang tersenyum padanya bukanlah apa apa. Pernah lihat seorang artis di
kerubuti fansnya kan. Ada yang rela melepas bajunya, berteriak teriak
seperti hantu turun gunung, menangis, bengong hingga lalat masuk dan
lansung menuju pusat pencernaan. Atau lebih dramatis, mereka
menyambutnya dengan mengorbankan nyawanya.
Setiap orang orang berusaha mencari penawar sepi ini, tapi sedikit orang yang menemukannya.
Ada juga yang merasa sepi dan sunyi, tapi mereka menikmatinya bahkan mencarinya!
Mereka
ini bahkan menjauh dari keramaian, secara sadar menyepi, menjauhkan
diri dari segala hiruk pikuk keramaian. Di antara orang orang ini bahkan
tersenyum di dalam kesendiriannya (tolong bedakan dengan orang gila).
Apakah mereka kesepian? apakah mereka merasa sunyi?
Sendiri tak berarti kesepian, sunyi tak berarti menyedihkan.
Semua
tipe orang orang di atas sama sama merasakan kesendirian tapi tak semua
merasakan kesepian.Tak semua merasakan kesunyian itu menyedihkan. Lalu
apakah sunyi dan sepi itu?
Sunyi dan sepi adalah perasaan jiwa
yang kosong yang terlahir dari ruh yang lapar. Ruh sebagaimana tubuh
membutuhkan makanan. Ia akan selalu lapar jika kita lupa memberinya
makan. Tubuh kita tercipta dari bumi, maka ia membutuhkan sesuatu dari
bumi. Ruh dan jiwa kita sesuatu yang turun dari langit, maka ia
membutuhkan sentuhan langit, sentuhan yang jauh, yang sesungguhnya, yang
kekal. Kita diciptakan untuk mengabdi kepada Al Malik, maka rongga jiwa
kita telah di ciptakan untuk di isi dengan ibadah, penghambaan. Seperti
tubuh, yang tetap kelaparan walau kita mengaji Al Qur'an tiada henti,
sholat tak pernah usai. Begitupun ruh atau jiwa kita akan selalu lapar
walau kita telah memiliki istana seluas langit dan bumi, memiliki
kecantikan dan ketampanan seindah bidadari, dan memiliki kejayaan
seperti Fir'aun. Sebab makanan tubuh adalah nasi dan teman remanya,
sedang makanan jiwa dan ruh adalah ibadah dan penghambaan padaNYA.
Lapar
tubuh bahayanya hanya kita semakin kurus atau paling banter
meninggalkan dunia. Tapi lapar ruh atau jiwa membuat kita bisa membunuh
manusia seluruhnya, binatang melata, tumbuh tumbuhan, menghancurkan
bumi. Ruh yang kelaparan akan selalu merasa sunyi walau di keramaian.
Sebab ia, sang ruh kita, membutuhkan kesendirian!
Ia membutuhkan kesendirian untuk bermunajat pada Rajanya, Allah.
Dalam
konteks inilah kemudian, sepi dan sunyi baginya adalah kenikmatan
ketika ia 'melihat' jejak jejak penciptaan di sekelilingnya. Ia sendiri,
tapi ia di temani langit dan bumi beserta isinya, di temani para
malaikat di langit, di tatap lembut oleh para bidadari surga, di sayangi
oleh seluruh alam semesta. Sebab bukankah ketika Allah mencincati
seorang hamba, maka seluruh alam semesta akan mencintainya?
Maka
apa artinya baginya keramaian manusia yang akan meninggalkannya? apa
artinya harta berlimpah yang akan memberatkannya? apa artinya kekuasaan
yang akan di mintakan pertangungjawaban darinya? apa artinya kebesaran,
fans yang banyak yang akan membuangnya ketika ia tak lagi 'berkuasa dan
memiliki karya'?
Mengertilah kita mengapa para 'abid tak pernah
memperdulikan di kurung di penjara, di buang dan di asingkan atau di
singkirkan. Seperti Rasulullah, Sayyid Qutb, Zainab Al Ghazali, Nabi
Yusuf, Nabi Isa dan banyak yang lainnya. Sebab mereka tak pernah
'sendiri' walau tak di temani.
Sepi dan sunyi.......terkadang indah, tapi seringnya menyakitkan.
Tergantung,
secerdas apa kita mengenal penyebabnya. Kalau sepi kita jelas jelas
karena kepergian ibu, obatnya ya harus ketemu ibu. Kalau sebabnya jelas
jelas karena memang cuma sendirian di rumah dan sekeliling kita tak ada
manusia ya berarti harus ketemu manusia.
Segalanya di tentukan oleh cara pandang kita atas sunyi dan sepi itu.....
Sebagian orang memandangnya dengan mata kepala, sebagian orang melihatnya dengan mata jiwa.
Apakah ada yang salah dengan sepi dan sunyi itu?
Oh sepi terkadang begitu perih, suatu saat selembut lantunan sukma......
Note : maav kepanjangan... aq hanya ingin mendiskripsikan sepi menurut persepsi ku sendiri..... thx apresiasinya....
The Voice of Rinai Hujan
salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar