Jumat, 10 Juli 2015

Uraian Sepi

Pernah merasa sepi, sunyi, sendiri?

Pasti pernah.

Kenapa ia hadir? Milik siapakah ia? Milik si miskin atau si kaya, yang beriman atau kufur, yang tua atau muda, yang berjaya atau papa?

Kita sering berfikir bahwa yang sering merasa sepi adalah yang sendiri, yang merasa sunyi adalah yang miskin harta. Benarkah?

Sepi, sunyi adalah rasa yang penuh misteri. Kita merasakannya tapi berbeda maknanya bagi setiap orang. Bagi sebagian orang sepi, sunyi identik dengan menyedihkan, menyedihkan identik dengan seuatu yang tak di sukai. Bagi sebagian orang, sepi, sunyi tak selalu tak di sukai walau kadang memang menyedihkan perasaan.

Bagi yang merasa sepi, sunyi sesuatu yang tak di sukai cenderung mencari pelampiasan atau penghiburan. Caranya juga macam macam, tapi rata rata yang merasa sunyi selalu mencari keramaian. Ke pesta, pertemuan kelurga, atau bikin pesta sesering mungkin dan minimal kalau itu tak memungkinkan menghidupkan tape recorder atau TV, Radio untuk 'menemani'.

Merasa membutuhkan berarti ada yang kurang dalam diri kita. Seperti haus atau lapar, menandakan tubuh kita telah kehilangan cairan dan butuh pengganti. Pun merasa sunyi, sepi, berarti kita membutuhkan sesuatu. Permasalahannya adalah banyak kita tak mengerti apa sebenarnya yang di pinta oleh 'rasa sepi dan sunyi' itu.

Selama ini sepi obatnya ya keramaian, benarkah?

Jika ini mutlak benar ada orang yang tetap merasa sunyi dan sepi walau di keramaian, akhirnya mereka bosan padanya (sebagian) dan mencari obat sepi dan sunyi yang lain. Pada orang orang kaya mereka mencarinya dengan membuat pesta tiap minggu, seperti perlakuan banyak artis dan aktor, pejabat yang kaya, orang orang ternama seperti Paris Hilton misalnya.

Keramaian itu ternyata juga tak terlalu menghibur maka mereka butuh yang lebih 'menghanyutkan', minuman keras awalnya, tapi semakin lama sang sepi tak juga pergi maka perlu di tambah 'penghibur yang lain' seperti opium, ganja dan segala macam obat obatan terlarang. Tapi masih kurang, mereka butuh yang lebih 'menyenangkan' seperti perempuan dan lelaki 'penghibur'. Tak juga memuaskan rasa sepi, mereka menambah dosisnya , lagi, lagi, lagi,.. hingga sang Raja Sepi sesungguhnya memeluknya di alam kubur.

Mereka yang mengkonsumsi obat obatan terlarang itu, yang mencari lelaki dan perempuan penghibur itu, yang selalu mencari perhatian publik, seperti para artis di mana saja yang selalu ingin tampil beda itu, orang orang kaya yang membeli satu plat mobil dengan harga milyaran (seperti tindakan seorang miilyuner dari Arab :) itu, milyarder milyarder yang membangun istana istana itu, yang mengoleksi segala lukisan lukisan mahal itu, atau mereka yang mengoleksi permata yang di pakai hanya setahun sekali itu hanyalah orang orang yang mencari 'teman', penawar sepi. Hanya itu!. Seperti Michael Jackson (almarhum), Madonna, Agnes Monica dan ribuan selebritis di dunia atau orang kaya yang berusaha membeli 'teman penawar sepi' dengan uangnya. Tapi mereka tak pernah menemukannya......

Sang sepi semakin merajalela, menguasai seluruh singgasana jiwa. Karena harta, kecantikan, ketampanan, kejayaan adalah sang raja baru yang selalu membutuhkan 'teman penghibur'. Jutawan membutuhkan orang miskin agar tetap menjadi kaya, yang cantik dan tampan selalu membutuhkan yang jelek agar tetap menjadi cantik dan tampan, sang artis selalu membutuhkan fans sebagai pemuja, pemimpin selalu membutuhkan pengikut agar menjadi ketua, sang raja selalu membutuhkan rakyat untuk berkuasa. Tanpa teman penghibur itu jutawan, artis, yang cantik dan tampan, para pemimpin bukanlah apa apa dan tak pernah menjadi siapa.

Mereka para raja, artis dan aktor, yang cantik dan tampan, para jutawan yang tak tahu di mana bisa mencari penawar sepi itu adalah orang orang miskin dan papa. Mereka butuh 'makanan' untuk semua raja raja baru itu. Raja kebesaran seringnya berkerabat dekat dengan keangkuhan. Dan keangkuhan adalah lambang kemiskinan yang paling parah. Angkuh selalu membutuhkan orang orang yang lebih 'rendah' untuk menjadi besar.

Apakah orang miskin, yang jelek, bukan jutawan, bukan artis, bukan pemimpin tak pernah merasa sepi dan sunyi?

Pernah!

Hanya tipenya beda dengan yang di atas. Mereka ini cenderung lebih mudah menemukan 'teman penghibur sementara'. Yang miskin bisa menangis bahagia ketika seseorang memberinya seekor ayam untuk lebaran esok hari, tapi bagi si jutawan, semilyar ayampun tak berarti apa apa. Bagi si jelek bisa tersenyum sepanjang hari di depan cermin karena seseorang tersenyum padanya di sebuah kenderaan umum, tak peduli siapa. Tapi bagi seorang yang terkenal punya banyak fans, atau punya banyak pengikut seseorang yang tersenyum padanya bukanlah apa apa. Pernah lihat seorang artis di kerubuti fansnya kan. Ada yang rela melepas bajunya, berteriak teriak seperti hantu turun gunung, menangis, bengong hingga lalat masuk dan lansung menuju pusat pencernaan. Atau lebih dramatis, mereka menyambutnya dengan mengorbankan nyawanya.

Setiap orang orang berusaha mencari penawar sepi ini, tapi sedikit orang yang menemukannya.

Ada juga yang merasa sepi dan sunyi, tapi mereka menikmatinya bahkan mencarinya!

Mereka ini bahkan menjauh dari keramaian, secara sadar menyepi, menjauhkan diri dari segala hiruk pikuk keramaian. Di antara orang orang ini bahkan tersenyum di dalam kesendiriannya (tolong bedakan dengan orang gila). Apakah mereka kesepian? apakah mereka merasa sunyi?

Sendiri tak berarti kesepian, sunyi tak berarti menyedihkan.

Semua tipe orang orang di atas sama sama merasakan kesendirian tapi tak semua merasakan kesepian.Tak semua merasakan kesunyian itu menyedihkan. Lalu apakah sunyi dan sepi itu?

Sunyi dan sepi adalah perasaan jiwa yang kosong yang terlahir dari ruh yang lapar. Ruh sebagaimana tubuh membutuhkan makanan. Ia akan selalu lapar jika kita lupa memberinya makan. Tubuh kita tercipta dari bumi, maka ia membutuhkan sesuatu dari bumi. Ruh dan jiwa kita sesuatu yang turun dari langit, maka ia membutuhkan sentuhan langit, sentuhan yang jauh, yang sesungguhnya, yang kekal. Kita diciptakan untuk mengabdi kepada Al Malik, maka rongga jiwa kita telah di ciptakan untuk di isi dengan ibadah, penghambaan. Seperti tubuh, yang tetap kelaparan walau kita mengaji Al Qur'an tiada henti, sholat tak pernah usai. Begitupun ruh atau jiwa kita akan selalu lapar walau kita telah memiliki istana seluas langit dan bumi, memiliki kecantikan dan ketampanan seindah bidadari, dan memiliki kejayaan seperti Fir'aun. Sebab makanan tubuh adalah nasi dan teman remanya, sedang makanan jiwa dan ruh adalah ibadah dan penghambaan padaNYA.

Lapar tubuh bahayanya hanya kita semakin kurus atau paling banter meninggalkan dunia. Tapi lapar ruh atau jiwa membuat kita bisa membunuh manusia seluruhnya, binatang melata, tumbuh tumbuhan, menghancurkan bumi. Ruh yang kelaparan akan selalu merasa sunyi walau di keramaian. Sebab ia, sang ruh kita, membutuhkan kesendirian!

Ia membutuhkan kesendirian untuk bermunajat pada Rajanya, Allah.

Dalam konteks inilah kemudian, sepi dan sunyi baginya adalah kenikmatan ketika ia 'melihat' jejak jejak penciptaan di sekelilingnya. Ia sendiri, tapi ia di temani langit dan bumi beserta isinya, di temani para malaikat di langit, di tatap lembut oleh para bidadari surga, di sayangi oleh seluruh alam semesta. Sebab bukankah ketika Allah mencincati seorang hamba, maka seluruh alam semesta akan mencintainya?

Maka apa artinya baginya keramaian manusia yang akan meninggalkannya? apa artinya harta berlimpah yang akan memberatkannya? apa artinya kekuasaan yang akan di mintakan pertangungjawaban darinya? apa artinya kebesaran, fans yang banyak yang akan membuangnya ketika ia tak lagi 'berkuasa dan memiliki karya'?

Mengertilah kita mengapa para 'abid tak pernah memperdulikan di kurung di penjara, di buang dan di asingkan atau di singkirkan. Seperti Rasulullah, Sayyid Qutb, Zainab Al Ghazali, Nabi Yusuf, Nabi Isa dan banyak yang lainnya. Sebab mereka tak pernah 'sendiri' walau tak di temani.

Sepi dan sunyi.......terkadang indah, tapi seringnya menyakitkan.

Tergantung, secerdas apa kita mengenal penyebabnya. Kalau sepi kita jelas jelas karena kepergian ibu, obatnya ya harus ketemu ibu. Kalau sebabnya jelas jelas karena memang cuma sendirian di rumah dan sekeliling kita tak ada manusia ya berarti harus ketemu manusia.

Segalanya di tentukan oleh cara pandang kita atas sunyi dan sepi itu.....

Sebagian orang memandangnya dengan mata kepala, sebagian orang melihatnya dengan mata jiwa.

Apakah ada yang salah dengan sepi dan sunyi itu?

Oh sepi terkadang begitu perih, suatu saat selembut lantunan sukma......


Note : maav kepanjangan... aq hanya ingin mendiskripsikan sepi menurut persepsi ku sendiri..... thx apresiasinya....

The Voice of Rinai Hujan


salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar