Jumat, 17 Desember 2010

another try



Sebagai perempuan, salah satu karunia terbesar yang kita miliki adalah hati-emosi, sifat dasar yang sensitif, dan feminitas kita.


Saya membaca penggalan atikel ini di kamar tadi malam. Tiba-tiba saya kembali mem-flash-back obrolan saya beberapa waktu yang lalu dengan seorang kawan di dunia maya. Malam itu dia bercerita bahwa ada temennya seorang perempuan yang tiba-tiba memutuskan perbincangan lewat cetting tanpa pamit, hanya karena kawan saya (seorang pria [sok] lugu) baru saja mengatakan bahwa dia sedang “memperhatikan” seseorang di gerejanya. Kawan saya protes saat itu dan bilang: ”kenapa perempuan itu aneh yah? Kenapa dia menjadi marah karena omonganku yang seperti itu?".

Saya pun cuma tersenyum simpul waktu itu, karena gambaran hal serupa pun pernah saya alami ketika tau bahwa salah satu temen yang cukup dekat dengan saya akan melangsungkan acara pertunangannya, mendadak. Tepat disaat perhatiannya kuanggap sebagai ekspresi “rasa sukanya”. Ternyata saya salah besar!!. Atau misalkan suatu keadaan seorang perempuan menerima ajakan kencan dari seorang laki-laki, dimana si perempuan akan cenderung terlibat lebih emosional bila si laki-laki bisa membuat dunia kita berputar di sekitarnya.

Kejadian ini sering kali dialami banyak perempuan di luar sana. Tak jarang malah mengalami putus asa, menjadi tertutup dan terus-menerus menyalahkan dirinya karena telah bermain-main dengan yang namanya “emosi”. Bagi perempuan, suatu hal yang wajar mencurahkan dirinya dalam suatu hubungannya, bahkan hubungan pertemanan biasa sekalipun. Sedangkan hal itu berbanding terbalik dengan laki-laki. Seorang laki-laki mungkin tidak tergerak untuk membuka hatinya kepada orang lain; sesungguhnya, ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya. Jadi bagi pria, menjalin sebuah pertemanan adalah memposisikan dirinya terlibat secara fisik, tetapi tidak terlibat secara emosional sama sekali.

Skenario yang sering muncul di pemikiran perempuan yang sedang menjalin pertemanan, adalah ketika mereka merasa posisi mereka membutuhkan adanya pengakuan. Bagi perempuan, pengakuan atas STATUS menjadi hal yang mutlak. Padahal jika suatu hubungan pertemanan lawan jenis, bagi laki-laki tetap saja judulnya “PERTEMANAN”, titik. Menilik skenario yang ada, maka tak jarang banyak kita dengar kisah curhat tentang “aku, sahabat yang mencintaimu”, kata si perempuan. Nah, kalo sudah melibatkan emosi, maka tak ayal persahabatan akan hancur, dan juga mempengaruhi "tingkat ke-PD-an” si perempuan. haalahh!!.

Nah bila sudah begini, perempuan akan mengunci emosi. Mereka secara tidak sadar mengatakan kepada diri sendiri bahwa satu-satunya cara agar tidak patah hati adalah dengan menyangkal bahwa mereka memiliki hati dan kembali pada gairah fisik, sama seperti laki-laki, yang memandang “fisik” adalah hal yang dominan.

Tapi bisa dipastikan untuk kaum perempuan, berlaku seperti itu hanya akan berhasil sebentar sampai kepedihan menerobos dinding pertahanan hatinya [lagi]. Sebuah teori mengatakan bahwa, Sebagai perempuan, kita dirancang untuk memberikan diri kita sepenuhnya-secara emosional dan fisik-kepada SATU laki-laki. Sehingga menjadi sebuah kebutuhan batin yang mendalam untuk dicintai dan disayangi seumur hidup oleh laki-laki yang kepadanya kita memberikan diri kita.

Basically, perempuan mencintai orang yang mencintainya… tapi laki-laki memilih kepada siapa cinta mereka akan berikan…



Dari apa yang coba artikel jelas itu, saya jadi berpikir untuk “belajar mengelola emosi”. Khusus buat kaum hawa yang sedang men-jomblo ato sedang menjalin pertemanan dengan lawan jenis, semoga pandai-pandai mengelola “hati”. Memang “hati” tak pernah bisa di prediksi-kan arahnya, tapi bukankah kita diberikan “ke-peka-an” yang menjadikan kita lebih hati-hati untuk memilih?.

Hati itu dipilih,bukan memilih…Ketika hati telah di pilih, saya akan merasa bahwa ada seseorang yang menganggap saya adalah pusat jagad rayanya. Saya hanya perlu merasakan kemana hati saya akan berlabuh…



Tak inginkan kau merasakan kepedihan yang muncul hanya karena memberi hatimu tanpa pikir panjang. Menjadi EMOSIONAL? Pikir-pikir lagi-lah…..!!!

*Sebaiknya saya cukupkan sampai disini saja penjelasan "ngawur" ini, tadi niatnya seh mau ngasih tanggapan ala saya tapi koq rasanya makin ndak karuan yo' *mbulet*.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar