Tiada suatu yang abadi dalam hidup, tiada lereng yang tak bercelah, keteguhan dan ketegaranku selama ini, perlahan terkikis dengan derasnya angin yang dihembuskan sang penguasa, meski ku coba tuk berdiri , namun aku terjatuh dan terjatuh lagi.
Kini kusandarkan tubuhku dibawah Pohon kerinduan, perlahan namun pasti sinar tubuhmu kian memudar, hingga akhirnya hanya bayangmu yang tersisa, akupun terdiam dalam sepi, tiada kata yang terucap tiada tangis yang kucurahkan, langkahku terasa berat, namun aku harus melangkah meski hanya dengan bayangmu.
Karena setiap nafas yang kuhembuskan ada cinta yang mengalir, meski kini engkau telah berlalu terpisah jarak dan waktu namun sinar cintakukan selalu menerangi setiap harimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar